Sabtu, 01 Desember 2012

Si Cemong.

Konichiwa!! Di Blog kali ini, gue iseng-iseng mau post  Cerita Pendek yang agak panjang (mungkin bisa dibilang dongeng) karangan gue sendiri.dan gue sangaaat jarang bikin cerpen ataupun dongeng, jadi mohon dimaklumi kalo banyak kurang-kurangnya hehe:). Ini ke-2 kalinya selama masuk SMP gue bikin cerpen. ..hugamuga. Itu kaya 'gak pernah' yang tertunda. Oke cukup busa-basi nya, yang mau baca, silahkan di scroll lagi kebawah. yang gak mau, silahkan pergi ke indomart terdekat.


Pada zaman dahulu, terdapat desa kecil di tempat yang terpencil bernama 'Desa Sukangompol'. Kebanyakan penduduk disana ramah. Desa itu termasuk desa yang makmur. Tetapi, di desa itu, hidup seekor kucing cemong nakal yang bawel, keras kepala dan banyak maunya.

Disuatu hari hujan, Kucing itu sedang akan memakan makan siang bersama Mama Kucing dan Papa Kucing. Siang itu Mama Kucing menyediakan ikan salmon sebagai menu makan siang. "Ah! Ikan salmon lagi ikan salmon lagi! Maa.. Tidakkah ada ikan lain?" Si Kucing cemong menggerutu. "cemong, hari ini kita harus makan apa yang ada dipersediaan dulu, karena Mama Kucing tidak bisa pergi ke pasar dihari hujan ini" bujuk Papa Kucing. "Tidak mau tahu! Pokoknya sekarang cemong ingin makan ikan pari!!" Cemong berkeras kepala. "Maaf cemong, tapi kali ini kamu harus memakan ikan salmon ini dulu" Mama Kucing berusaha membujuk Cemong. Tapi cemong tetap berkeras kepala ingin memakan ikan pari.

Akhirnya sore itu juga keluarga (agak) bahagia itu berangkat ke pasar untuk membelikan cemong ikan pari. Jalanan didesa itu masih becek akibat hujan, terdapat beberapa tetes air di dedaunan, warna-warna mejikuhibiniu terbentang diangkasa. Nikmat sekali suasana setelah hujan di desa itu. Ditambah lagi udara segar yang dihirup Cemong ke paru-parunya. Sore itu sangat bahagia bagi cemong. Akhirnya, keinginannya dituruti juga oleh kedua orang tuanya.

Dan setelah itu, keluarga kucing menikmati menu ikan pari goreng sebagai makan malam. Cemong melahap ikan pari itu dengan semangat. Orang tuanya senang sekali melihat anak mereka makan dengan lahap. Namun, perilaku Cemong setelah selesai makan sangat mengecewakan mereka. Mulut cemong celemotan, dan dia membersihkan mulutnya dengan lengannya. Setelah itu dia bersendawa keras didepan muka orang tuanya. Lalu tanpa mengucapkan terimakasih, cemong malah langsung berlari keluar dan bermain bersama teman-temannya. Papa Kucing dan Mama Kucing sungguh kecewa.

Setelah pulang bermain cemong dihukum oleh Papa dan Mama kucing. Cemong harus mencuci piring malam itu. Cemong menggerutu dari awal dia memegang piring pertama sampai dia mengelap piring terakhirnya.

Keesokan harinya, mereka diberikan menu sarapan ikan pari lagi oleh Mama Kucing. "mama! Aku tidak mau makan ikan pari lagi!!" Lagi-lagi Cemong mengeluh soal ikan. "Cemong, ikan pari kemarin masih tersisa, sayang kalau kita harus beli ikan baru sementara masih ada ikan dirumah" Mama Kucing menjelaskan. "Tidak mau!! Aku tidak mau makan ikan pari terus menerus!!" Keluhan cemong sangat tidak masuk akal. Dari 2 minggu terakhir ini, kemarinlah pertama kalinya Cemong makan ikan pari. "Cemong!! Kamu tidak boleh egois seperti itu! Kamu tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kamu mau di dunia ini!!" Papa Kucing marah. "Papa, Mama jahat!! Papa tidak pernah menuruti pemintaan cemong!!" Cemong marah dan memutar balikan fakta. Kemudian cemong berlari keluar rumah, entah apa yang akan dilakukannya. Mama Kucing menyilangkan lengannya didepan dadanya sambil berdecak takjub atas perilaku anak laki-lakinya, begitu juga yang dilakukan oleh Papa Kucing.

Sampai lewat tengah hari, cemong belum juga kembali. Di siang hari yang panas itu, cemong berjalan tertatih-tatih. Perutnya terasa lapar. Dia belum makan apa-apa dari pagi. Cemong menyesal. Seandainya dia memakan ikan pari itu, pasti dia tidak akan kelaparan sekarang. Dia ingin kembali kerumah untuk makan, tapi ia masih menyimpan amarah pada kedua orang tuanya. Dan terik matahari seakan ingin membakar kulitnya.

Tiba-tiba cemong melihat sebuah kebun sayur-sayuran. Memang tidak seharusnya seekor kucing memakan sayur, tapi saat itu Cemong sangat lapar. Baru selangkah ia mendekati sebuah mentimun, tiba-tiba ia mendengar suara seorang laki-laki tua. Cemong seperti mengenal suara itu. Ah ya! Pasti itu pak Amir. Pak Amir sangat terkenal akan kebun sayur-sayurannya yang tersubur di desa itu. Itu sudah pasti kebun pak Amir. Lalu ia melihat sosok laki-laki tua berjanggut panjang yang berwarna kelabu berjalan menuju kebunnya, itulah pak Amir. Dibelakangnya terlihat seorang laki-laki yang cukup tua, namun tidak setua pak Amir. Laki-laki itu tidak lain tidak bukan adalah Voldemort, asisten setia pak Amir dalam mengurus kebunnya. Cemong berusaha tidak memedulikan mereka dan tetap mendekati mentimun nya tadi. Sedikit lagi tangan cemong meraih mentimun, tiba-tiba pak Amir berteriak "Hey! Kamu sedang apa? Kamu mau mencuri sayurku ya??" Cemong terdiam. "Apakah kau lapar anak muda? Kalau begitu, kembalilah ke rumah orang tua mu!" cemong kembali terdiam. Pak Amir dan Voldemort memerhatikan cemong. Cemong tetap membeku. 3 detik kemudian cemong dengan cepat kilat memetik mentimun pak Amir. Pak Amir berteriak "HEY! Jangan curi mentimun ku!!!" Sementara Voldemort berusaha menangkap  Cemong. Tapi terlambat, Cemong sudah melesat pergi jauh. Pak amir dan Voldemort sangat kesal. Lalu pak amir berteriak marah "Dasar kucing berandal!!!!" Sambil melemparkan kaca matanya pada voldemort. Sementara cemong sudah tak terlihat oleh pak Amir.

Setelah merasa berlari cukup jauh dari kebun pak Amir. Cemong menatap mentimun itu dengan ragu-ragu. Sebelumnya, belum pernah ia mendengar ada kucing makan mentimun. Tapi perutnya itu sudah menagih makanan dari tadi. Akhirnya dengan ragu-ragu, dia menggigit mentimun itu. Lalu ia mengunyahnya perlahan sambil mencoba memahami rasanya. 3 detik kemudian "BYEKKK" cemong memuntahkan mentimun itu ke tanah. Ia benar-benar jijik dengan rasanya. Makanan paling tidak enak yang pernah ia coba seumur hidupnya! Bertambahlah rasa penyesalannya pada orang tuanya.

Ia mulai mengingat-ngingat kesalahannya pada orang tuanya. Cemong benar-benar merasa durhaka pada Papa dan Mama Kucing. Lalu ia kembali kerumah orang tuanya dengan perasaan menyesal, dan meminta maaf. Orang tuanya langsung memaafkannya. Setelah itu Cemong memakan ikan pari dengan lahap namun rapih, setelah itu ia mengucapkan "terimakasih" pada Papa Kucing dan Mama Kucing. Sekarang mereka sudah resmi menjadi keluarga bahagia.

Abis.


-aqiilah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar